PSS= Pekerja Seks Sosial
PSS
Di meja makan siang itu, tentu kami mengobrol ke sana-kemari. Teman saya mengingatkan kalau tulisan saya minggu lalu mengenai tunasusila mestinya ditambah.
"Sekarang selain ada PSK, ada juga PSS," katanya. Saya balik bertanya, apa yang dimaksud dengan singkatan baru itu. "Pekerja seks sosial. Kan kalau ada yang komersial, yaaa… ada yang sosial kan, booo," jelasnya. Teman pria saya di ujung meja nyeletuk. "Ikutan dong."
Dalam hati saya tertawa. Singkatan itu menyetrum saya karena saya adalah seorang bekas PSS. Itu bukan hal baru, mungkin singkatannya saja yang baru saya dengar. Melakukan pekerjaan sosial di ranjang. Saya senang, orang yang saya "tolong" juga senang. Tanpa ada yang dibayar dan tanpa ada yang merasa rugi uangnya hilang melayang. "Namanya juga sosial, ya tak?" kata teman saya seolah membaca pikiran saya.
Karena tidak dibayar, saya melakukan dengan senang hati, saya kemudian merasa saya bukan seorang pekerja seks komersial karena sifatnya sosial, tanpa paksaan. Namanya juga sosial, dan bukan komersial, maka menolong orang sebanyak mungkin adalah target mulia yang harus dicapai seperti target penjualan. Karena seperti banyak perusahaan memiliki program tanggung jawab sosial, maka saya menjadi kupu-kupu sosial.
Apakah niat beberapa perusahaan melakukan pertanggungjawaban sosial bersifat sebagai PR atau memang benar perusahaan tersebut memiliki jiwa sosial, itu memang perlu waktu untuk berbicara dengan pimpinan perusahannya sendiri. Kalau saya, 100 persen buat kesenangan diri sendiri.
Selain di ranjang, saya juga berusaha menjadi manusia sosial di luar ranjang. Membantu orang dalam keuangan sedikit. Sedikit karena saya sendiri masih perlu bantuan dana. Waduh, senang sekali rasanya kalau orang menolong saya membukakan dompet sosial buat saya. "Sosial? Hua-ha-ha-ha. Lo kok bisa sosial," lanjutnya.
Teman saya memberi nasihat. Bila saya mau meminjamkan uang kepada seseorang, sebaiknya seperti memberi sumbangan saja. Saya tak usah memikirkan kapan pinjaman itu akan dikembalikan. "Dipikir-pikir, melatih menjadi manusia sosial," katanya lagi.
Ternyata ketika uang itu tak pernah kembali, saya mengomel. Saya ternyata masih belum bisa menjadi pribadi yang benar sosial. Latihan itu gagal dan ternyata berat buat saya jadi manusia berjiwa sosial.
"Perlu latihan, bo. Maksudnya pinjemin uang lo lagi. Ke gue saja," celetuk teman saya sambil tertawa.
GUBRAKK!!!
bisa bangkrut saya....hahahaha... ternya bekerja sosial or SOK SIAL gampang2 susah...
Bekarja sosoal/tanpa pamrih/ikhlas.....yaaah gw anggep seperti kalau kita mo kebelakang alias PUP....udh mules, masuk toilet,keluarkan,bersihkan...TIDAK DIPIKIRKAN!!!
itu baru yg namanya SOSIAL/IKHLAS.

