Wanita Pengaduk Mantera

Posted: 17th March 2011 by widi_poo@yahoo.com in Poem
Tags:
Comments Off

Dia wanita…

Yang menajamkan
Akal-akal kecil kami hingga rindang
Bukan dengan pedang
Namun dengan lembut kasih sayang

Pada bibirnya tak henti
Melafazkan do’a-do’a sebelum kami pergi hingga selamat kembali
Tak lelah kau diuji

Dia wanita …

Pada rupa keriputnya
Laksana renda cemerlang di cakrawala
Menambah keindahan pagi
Saat enggan beranjak pergi

Pengaduk mantra
Dalam cawan dan belanga
Kala dahaga dan keroncong mulai mengeliat
Rerempahmu memang candu!

Dia wanita

Yang slalu kau sebut
Kala gundah gulana
terlupa kala suka

Yang menyemarakkan
Dari pagi hingga petang

Tak sanggup aku membalasmu
Tak sanggup aku jika kehilanganmu

Mama, aku menyayangimu

@wydeworld-22122010-pengadukmantra

Segelas Jus Harga Diri

Posted: 17th March 2011 by widi_poo@yahoo.com in Poem
Tags:
Comments Off

segelas airmata yang kau tuangkan di depanku”

Memang,
aku menyisihkannya
Itu bukan sebuah cinderamata

Segelas, Mengapa?

Bibirku tak sanggup meluncurkan manis kata
Walau itu tentang musim bunga

Segelas airmata ini kau titipkan padaku?

Janganlah kau buang cuma-cuma
Hingga tangisku takkan sia-sia

Aku kan sendiri…

Sendiri tak berarti mati
Kau hanya mabuk dengan segelas jus harga diri

@wydeworld-30112010-segelasjushargadiri

Siapa Melukis Dendam Di Matamu?

Posted: 17th March 2011 by widi_poo@yahoo.com in Poem
Tags:
Comments Off

Masih menghadap kanvas putih
Ku Rindu tatapanmu yang jernih
Bercerita tentang birunya langit
Hingga lengkung bulan sabit

Hanya lengan yang berayun
Menoreh palet bercak noda
Merah saga, hijau daun
Tak membuatnya tergoda

Kau tak membuat kanvas itu celaka,bukan?
Atau menjadikannya bulan-bulanan
Percikan kuasmu tumpul rasa
Namun kau membuatnya merana

Tidakkah kau rindu
Laut biru dan pematang hijau
Kanvasmu telah kalut jemu
Ungu hitam biru kelabu

Goresankah itu?
Tebal merapal nuansa kelam
Tatkala membalik kanvas
Dengan mata menyala dendam

@wydeworld-30112010-siapa melukis dendam dimatamu?

The Window

Posted: 17th March 2011 by widi_poo@yahoo.com in Poem
Tags:
Comments Off

Standing look out the window
See the leaves around tree of willow
Remember when I was hug my pillow

I’ve been spying with your shadow
And my heart stabbing arrow
I can’t see the colorful of rainbow

You so fast as a train
And its still on my brain
When you leave me in the middle of huge rain

This music already lost its tone
Leave me…leave me alone
Or my sarcastic word it can make you like a stone

@wydeworld-17122010-thewindow

Terlanjur Terurai

Posted: 17th March 2011 by widi_poo@yahoo.com in Poem
Tags:
Comments Off

Memutar kunci gerbang besi
Beratnya masih terinci
Membuka halaman kenangan
Membuat darah tergenang

Hati ini cukup kacau
Terbelit Salur gelisah nan meracau
Nanar yang menghimpit
Jerit pun sulit terakit

Saat ini Cabik katamu masih merajah
Deru deru hujamanmu terekam kalbu
Jika senyummu menginginkan damai
Sayang… Airmataku terlanjur terurai

@wydeworld-11102010-terlanjurterurai

Palembang

Posted: 17th March 2011 by widi_poo@yahoo.com in Poem
Tags:
Comments Off

Mengapa aku bisa jatuh cinta pada tanah itu
Baru pertama kali kuinjakkan kaki
Hanya karena jembatan
Dan, angin musim yang melewatinya

Entah…
Jika tanah itu mengikatku dengan eratnya
Di lelapku mengundang kerinduan
Hingga lekat senja membuatku selalu merona

Menyisir sepanjang ulu hingga ilir
Teriring gending sriwijaya mengalun
Bersama hembusan angin bercampur embun

Saat Ku ukir namamu di puncak pagoda
Hingga pulau kemarau membuatku mimpi meracau

Mengapa aku bisa jatuh cinta pada tanah itu
Mengingat pernah ku suapkan kapal selam di sela bibirmu
Terurai asam pedas di sela tawamu

Tunggu aku…
Setia ampera menyapa arus sungai musi mu.

Wydeworld-11012011-palembang

Tak Beralamat

Posted: 17th March 2011 by widi_poo@yahoo.com in Poem
Tags:
Comments Off

Jika kau kirimkan rindu-rindumu

Sayang…
Aku tak beralamat
Biarlah rindumu tak singgah
Ku hanya tinggal di ujung waktu
Yang sesaat pergi dan melupakanmu

Jika kau tuliskan puisi cinta padaku

Sayang…
Aku tak membaca
Biarlah aksaramu bertebaran di angkasa
Karna cinta bukan milik kita

@wydeworld-16012011-takberalamat

Menunggu Tuhan Di Akhir Bulan

Posted: 17th March 2011 by widi_poo@yahoo.com in Poem
Tags:
Comments Off

Ingin menemui Tuhan
Ketika malam merayap larut
Orang-orang mulai terhanyut

Tuhan tersangkut di langit-langit
Menggantung dengan lampu gemerlap
Dengan iringan lagu menghentak

Padahal, Tuhan rapi tersimpan
Di belakang foto orang tersayang
Dalam dompet terlipat tebal
Bercampur dengan bon penarikan

Kadang Tuhan di temui di mall
Menyamar sebagai manequin
Berpose dalam kaca etalase
Yang memanggil untuk mampir

You have no comments to approve.

Tuhan suka makan di restoran
Duduk memandang orang bersliweran
Menyeruput kopi hitam dalam cawan

Tuhan…
Kau membuatku tertawa bak raja
Di temani sebotol vodka
Melalui malam-malam bingar
Hingga menjelang fajar

Tuhan…
Aku menunggumu di akhir bulan
Ketika tipis imanku membeli akal

@wydeworld-31012011-menungguTuhandiakhirbulan

Detik Penanggalan

Posted: 17th March 2011 by widi_poo@yahoo.com in Poem
Tags:
Comments Off

Aku mendatangimu malam jalang
Di sela lonceng
Jam dua belas berdentang

Ketika…
Aku sangat menginginkanmu
Kau hanya menginginkan lenguh

Persetan…!!
Kau hanya menginginkan
Malam runtuh berpeluh
Tak sadar aku tetap luluh

Ku rengkuh tak bersisa
Hingga lenguh menjadi tersangka

Aku meninggalkan malam
Saat kau tidur dalam hangat peraduan
Ku Berjingkat perlahan
Meninggalkan cerita dan detik penanggalan

@wydeworld-17012011-detik penanggalan

Rindu Alam

Posted: 17th March 2011 by widi_poo@yahoo.com in Poem
Tags:
Comments Off

Masih teringat sepoi angin manja
Saat ku singgah di kota senja
Di bawah pohon perdu sewarna

Kini sendu…
Kicau burung gereja membisu
Kala debu telah membuatnya flu

Paduan suara jangkrik
Tak lagi menggelitik
Digantikan jangkrik magnetik

Tamanku menjadi taman asing
Sepoi anginnya pun kering
Lalu-lalang membuat bising

Hamparan rumput hijau telah hilang
Tak ada lompatan lincah belalang
Apa lagi tempat bermain layang-layang

@wydeworld-07122010-rindualam